Senin, Februari 09, 2009

MASA DEPAN HMI TANTANGAN DAN PELUANG

IBARAT air sungai, nampaknya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat ini sudah sangat jauh dari mata air. Bahkan boleh jadi sudah mendekati muara. Kejernihan air sungai semakin keruh tidak lagi terlihat warna aslinya sebab bercampur dengan ragam "limbah" di sepanjang aliran. Kalaupun nampak kejernihan itu, barangkali hanya bisa dilihat dari catatan sejarah "kebesaran HMI" dan penuturan alumni yang telah mewarnai panggung sejarah Indonesia.

Metafora di atas mungkin dirasa terlalu ekstrem, namun dari metafora itulah diharapkan muncul semangat juang kader untuk mengembalikan HMI pada peran sebagai organisasi perjuangan dan fungsi sebagai organisasi kader yang dijalankan semestinya. Mengingat kondisi HMI kekinian yang semakin menua dengan tantangan semakin berat.
Untuk pencapaian tujuan HMI perlu dipersiapkan kondisi yang tepat sebagai modal untuk merekayasa masa depan sesuai dengan 5 kualitas insan cita HMI. Tantangan yang dihadapi HMI dan masa depan bangsa Indonesia sangat komplek. Tetapi justru akan menjadi peluang yang sangat baik untuk memperjuangkan cita-cita HMI sampai mencapai tujuan.

Berbagai model alumnus lahir dari rahim perkaderan HMI. Berbagai tipe alumnus telah bermunculan dari pembelajaran di HMI. Kiprah alumni tumbuh dan berkembang sesuai panggilan jiwa masing-masing. Namun, kiprah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kini dinilai mengalami pergeseran nilai. Banyak kader HMI yang berpikir pragmatis dan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan. Sebagian dari mereka lupa, bahwa HMI harus kembali ke frame work-nya yang menjunjung nilai-nilai keimanan, keilmuan dan keummatan.

Bermunculannya tokoh-tokoh HMI di kancah perpolitikan nasional, katanya, bisa jadi ikut andil membawa pergeseran nilai itu. Kader-kader HMI mulai berpikir pragmatis untuk bisa sesukses senior-seniornya. Sayangnya, proses itu membuat HMI tergelincir.
Dari masa kemasa, beberapa persoalan yang dihadapkan pada HMI tentang kritik independensi HMI, kedekatan dengan militer, sikap HMI terhadap komunisme, tuntutan Negara Islam, dukungan terhadap rehabilitasi masyumi, penerimaan azas tunggal Pancasila, adaptasi rasionalitas pemikiran, dan lain-lain yang memberikan penilaian kemunduran terhadap HMI, Yahya Muhaimin dalam konggres HMI ke XX mengemukakan konsep tentang revitalisasi, reaktualisasi, refungsionalisasi, dan restrukturisasi organisasi. Anas Urbaningrum menjawabnya dengan pemberian wacana politik etis HMI. Yakni dengan langkah : Peningkatan visi HMI, intelektualisasi, penguasaan basis dan modernisasi organisasi.

Bagi muslim, sejarah merupakan bahan evaluatif atau introspeksi perjalanan manusia dalam mengemban amanah-Nya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Antara lain untuk mengukur kekinian mereka sendiri, serta implikasi apa yang mungkin akan diterima jika kecenderungan itu terus berlangsung.

HMI nampak kering dan miskin akan nilai-nilai intelektual dan akademis. Budaya organisasi yang mengarah pada tumbuhnya pemikiran baru tidak lagi nampak dan hanya tinggal kenangan. Kondisi HMI yang demikian tentu bukan terjadi tanpa dibarengi sebab, dan dari sadar akan sebab itulah kita bisa secepatnya mengembalikan HMI dalam jalur yang semestinya. Orientasi kader dalam memaknai HMI sebagai wadah perjuangan keumatan dan kebangsaan adalah problem yang sudah lama terkena polusi oleh orientasi politis.

Tidak salah memang orientasi ini tumbuh, sebagai salah satu soft skill politik yang semestinya dimiliki kader HMI. Disamping pendewasaan politik bagi setiap kader. Namun budaya yang memacu tumbuhnya nilai-nilai intelektual semestinya tidak boleh ditinggalkan, lebih ditonjolkan, dan mulai kembali dibangun. Sebab HMI menjadi besar dan berkembang tidak semata karena track record para kader dalam bidang politik semata. Justru melalui dimensi pemikiran dan pergerakan itulah HMI memiliki nilai lebih.

Riwayat

Pada setiap momen yang menentukan dalam perjalanan pertumbuhan dan perkembangan umat Islam dan bangsa Indonesia. HMI tidak pernah melewatkannya tanpa partisipasi yang aktif, kreatif dan korektif. Kiprah HMI yang demikian itu disebabkan oleh kesadaran kuat setiap insan HMI bahwa iman yang diyakini, Ilmu yang dimiliki senantiasa menghendaki perwujudan dalam amal nyata demi mencari ridho Allah SWT. Karena sesejatinya manusia adalah yang berguna bagi bangsa Negara dan agamanya.
Berbagai argumen telah diungkapkan sebab-sebab kemunduran ummat Islam. Tetapi hanya satu hal yang mendekati kebenaran, yaitu bahwa kemunduran ummat Islam diawali dengan kemunduran berpikir, bahkan sama sekali menutup kesempatan untuk berpikir. Yang jelas ketika ummat Islam terlena dengan kebesaran dan keagungan masa lalu maka pada saat itu pula kemunduran menghinggapi kita.

Dengan mengetahui sejarah masa lampau dapat diketahui kebesaran dan semangat juang HMI. Hal tersebut merupakan tonggak bagi HMI untuk meneruskan perjuangan para pendahulunya pada masa kini dan menuju hari esok yang lebih baik. Mempelajari HMI tidak hanya cukup dengan mengikuti training formal. Mempelajari dan menghayati HMI harus dilakukan secara terus menerus tanpa batas kapan dan dimanapun. Dengan cara seperti itulah pemahaman dan penghayatan akan nilai-nilai HMI dapat dilakukan secata utuh, lurus, dan benar. Agar cita-cita HMI dapat terwujud sebagai peluang dalam merealisasikan peran dan fungsi HMI sebagai bagian dari gerakan mahasiswa dalam pembangunan umat dan bangsa


YAKIN USAHA SAMPAI, BAHAGIA HMI..
* Siska Dian Klaresia1 : Seorang Mahasiswi Fakultas Ilmu komunikasi UNPI Cianjur yang tengah bergerak menyempurna dalam hidup
Read more

MASA DEPAN HMI TANTANGAN DAN PELUANG

IBARAT air sungai, nampaknya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat ini sudah sangat jauh dari mata air. Bahkan boleh jadi sudah mendekati muara. Kejernihan air sungai semakin keruh tidak lagi terlihat warna aslinya sebab bercampur dengan ragam "limbah" di sepanjang aliran. Kalaupun nampak kejernihan itu, barangkali hanya bisa dilihat dari catatan sejarah "kebesaran HMI" dan penuturan alumni yang telah mewarnai panggung sejarah Indonesia.

Metafora di atas mungkin dirasa terlalu ekstrem, namun dari metafora itulah diharapkan muncul semangat juang kader untuk mengembalikan HMI pada peran sebagai organisasi perjuangan dan fungsi sebagai organisasi kader yang dijalankan semestinya. Mengingat kondisi HMI kekinian yang semakin menua dengan tantangan semakin berat.
Untuk pencapaian tujuan HMI perlu dipersiapkan kondisi yang tepat sebagai modal untuk merekayasa masa depan sesuai dengan 5 kualitas insan cita HMI. Tantangan yang dihadapi HMI dan masa depan bangsa Indonesia sangat komplek. Tetapi justru akan menjadi peluang yang sangat baik untuk memperjuangkan cita-cita HMI sampai mencapai tujuan.

Berbagai model alumnus lahir dari rahim perkaderan HMI. Berbagai tipe alumnus telah bermunculan dari pembelajaran di HMI. Kiprah alumni tumbuh dan berkembang sesuai panggilan jiwa masing-masing. Namun, kiprah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kini dinilai mengalami pergeseran nilai. Banyak kader HMI yang berpikir pragmatis dan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan. Sebagian dari mereka lupa, bahwa HMI harus kembali ke frame work-nya yang menjunjung nilai-nilai keimanan, keilmuan dan keummatan.

Bermunculannya tokoh-tokoh HMI di kancah perpolitikan nasional, katanya, bisa jadi ikut andil membawa pergeseran nilai itu. Kader-kader HMI mulai berpikir pragmatis untuk bisa sesukses senior-seniornya. Sayangnya, proses itu membuat HMI tergelincir.
Dari masa kemasa, beberapa persoalan yang dihadapkan pada HMI tentang kritik independensi HMI, kedekatan dengan militer, sikap HMI terhadap komunisme, tuntutan Negara Islam, dukungan terhadap rehabilitasi masyumi, penerimaan azas tunggal Pancasila, adaptasi rasionalitas pemikiran, dan lain-lain yang memberikan penilaian kemunduran terhadap HMI, Yahya Muhaimin dalam konggres HMI ke XX mengemukakan konsep tentang revitalisasi, reaktualisasi, refungsionalisasi, dan restrukturisasi organisasi. Anas Urbaningrum menjawabnya dengan pemberian wacana politik etis HMI. Yakni dengan langkah : Peningkatan visi HMI, intelektualisasi, penguasaan basis dan modernisasi organisasi.

Bagi muslim, sejarah merupakan bahan evaluatif atau introspeksi perjalanan manusia dalam mengemban amanah-Nya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Antara lain untuk mengukur kekinian mereka sendiri, serta implikasi apa yang mungkin akan diterima jika kecenderungan itu terus berlangsung.

HMI nampak kering dan miskin akan nilai-nilai intelektual dan akademis. Budaya organisasi yang mengarah pada tumbuhnya pemikiran baru tidak lagi nampak dan hanya tinggal kenangan. Kondisi HMI yang demikian tentu bukan terjadi tanpa dibarengi sebab, dan dari sadar akan sebab itulah kita bisa secepatnya mengembalikan HMI dalam jalur yang semestinya. Orientasi kader dalam memaknai HMI sebagai wadah perjuangan keumatan dan kebangsaan adalah problem yang sudah lama terkena polusi oleh orientasi politis.

Tidak salah memang orientasi ini tumbuh, sebagai salah satu soft skill politik yang semestinya dimiliki kader HMI. Disamping pendewasaan politik bagi setiap kader. Namun budaya yang memacu tumbuhnya nilai-nilai intelektual semestinya tidak boleh ditinggalkan, lebih ditonjolkan, dan mulai kembali dibangun. Sebab HMI menjadi besar dan berkembang tidak semata karena track record para kader dalam bidang politik semata. Justru melalui dimensi pemikiran dan pergerakan itulah HMI memiliki nilai lebih.

Riwayat

Pada setiap momen yang menentukan dalam perjalanan pertumbuhan dan perkembangan umat Islam dan bangsa Indonesia. HMI tidak pernah melewatkannya tanpa partisipasi yang aktif, kreatif dan korektif. Kiprah HMI yang demikian itu disebabkan oleh kesadaran kuat setiap insan HMI bahwa iman yang diyakini, Ilmu yang dimiliki senantiasa menghendaki perwujudan dalam amal nyata demi mencari ridho Allah SWT. Karena sesejatinya manusia adalah yang berguna bagi bangsa Negara dan agamanya.
Berbagai argumen telah diungkapkan sebab-sebab kemunduran ummat Islam. Tetapi hanya satu hal yang mendekati kebenaran, yaitu bahwa kemunduran ummat Islam diawali dengan kemunduran berpikir, bahkan sama sekali menutup kesempatan untuk berpikir. Yang jelas ketika ummat Islam terlena dengan kebesaran dan keagungan masa lalu maka pada saat itu pula kemunduran menghinggapi kita.

Dengan mengetahui sejarah masa lampau dapat diketahui kebesaran dan semangat juang HMI. Hal tersebut merupakan tonggak bagi HMI untuk meneruskan perjuangan para pendahulunya pada masa kini dan menuju hari esok yang lebih baik. Mempelajari HMI tidak hanya cukup dengan mengikuti training formal. Mempelajari dan menghayati HMI harus dilakukan secara terus menerus tanpa batas kapan dan dimanapun. Dengan cara seperti itulah pemahaman dan penghayatan akan nilai-nilai HMI dapat dilakukan secata utuh, lurus, dan benar. Agar cita-cita HMI dapat terwujud sebagai peluang dalam merealisasikan peran dan fungsi HMI sebagai bagian dari gerakan mahasiswa dalam pembangunan umat dan bangsa


YAKIN USAHA SAMPAI, BAHAGIA HMI..
* Siska Dian Klaresia1 : Seorang Mahasiswi Fakultas Ilmu komunikasi UNPI Cianjur yang tengah bergerak menyempurna dalam hidup
Read more

BBM TURUN, SEMBAKO TERUS MEROKET

Harga Sembilan Bahan Pokok (SEMBAKO) kian naik. Pasalnya, paska penurunan BBM pada Tanggal 15 januari lalu, belum memberikan pengaruh yang significant pada sirkulasi harga jual beli barang di Pasar Induk Cianjur. Hal ini disinyalir pada masalah Cuaca buruk yang tengah dihadapi saat ini.
Harga Beras yang rata-rata naik 200-1000 rupiah per kilogramnya, cukup membuat kaget para pembeli. Untuk Beras jenis IR-64 harga dipasaran mencapai kisaran Rp 5500/kg yang harga asalnya hanya 5000 rupiah. Untuk beras jenis Sadane dan Cintanur mencapai harga Rp 5700/kg yang harga asalnya hanya Rp 5200/kg. sedangkan untuk jenis Beras Pandanwangi mencapai kisaran harga Rp 8000/kg yang asalnya hanya Rp 7800/kg.
“Seharusnya BBM Turun, harga Beraspun turun, tapi karena hujan terus jadi susah untuk jemur gabah. Kemungkinan harga bisa turun sekitar bulan depan”. Tutur Abdullah (28), salah satu pemilik toko beras disekitar pasar induk.
Tak hanya itu, harga Cabai merah jenis tanjung lebih luar biasa naik. Dipasaran kini mencapai Rp 24.000/kg dari harga asalnya Rp 17.000/kg. Harga tomat mencapai kisaran Rp 13.000/kg dari harga asalnya 9000/kg. Bawang merah mencapai harga 9000/kg dari harga asalnya 7000/kg. Dan untuk harga telur ayam kini mantap dengan harga Rp 13.500/kg dari harga asalnya Rp 12.500/kg. Gula pasir pun kini mencapai harga Rp 7500/kg yang asalnya hanya Rp 6500/kg. Harga daging ayampun kini mencapai Rp 24.000/kg dari harga 23.000/kg.
Masyarakat tentu mengeluhkan kenaikan sejumlah harga-harga tersebut, karena turunnya BBM tidak membuat pengaruh sama sekali. Bu Titin (46) salah satu warga cikaret mengaku kecewa dengan kenaikan harga sembako tersebut. Karena dengan begitu, ia harus menambah lagi anggaran uang belanja disaat semua kebutuhan ikut naik.
“Saya jadi pusing semua pada naik. BBM turun ternyata tidak bawa perubahan harga. Tapi mau gimana lagi, akhirnya dibeli juga untuk kebutuhan hidup”, Tandasnya.
Ditengah kelangkaan gas dan minyak tanah, masyarakat harus kembali dihadapkan dengan kenaikan-kenaikan harga sembako tersebut.

(chika) / Penelusuran di PIC
Read more

KGC, PILIH PENGURUS BARU

Sekitar 810 Anggota Koperasi Guru Cianjur (KGC), kembali memilih pengurus baru untuk periode 2009-2012 mendatang di Bale Panyangling Raga KONI Cianjur pada hari Minggu (25/01).
Pemilihan pengurus yang dilaksanakan setiap 4 tahun sekali ini, dihadiri oleh seluruh koperasi guru se-kecamatan Cianjur dan se-kecamatan Cilaku, yang jumlah anggotanya diperkirakan meningkat dari tahun sebelumnya. Terlebih Pemilihan inipun sekaligus merangkap Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang biasa dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Sehingga jumlah anggota yang hadir meningkat.
“Sekitar 30 orang, kini sudah bergabung menjadi anggota KGC. Dan ini merupakan peningkatan yang baik untuk KGC”. Tutur Cecep Rohimat, selaku pengurus KGC periode sebelumnya.
Menurutnya, peningkatan ini terjadi karena KGC selalu melakukan peningkatan pada seluruh anggotanya secara berkesinambungan. Tak hanya itu, KGC merupakan Usaha Simpan Pinjam (USP) satu-satunya yang telah diaudit oleh Auditor Independen Pusat, atas kinerja yang baik terhadap pelayan masyarakat. Wajar jika anggota semakin bertambah.
Dalam kesempatan itu, seluruh anggota yang terdaftar, memiliki hak suara untuk memilih 5 dari 10 kandidat yang berasal dari wilayah Cianjur dan Cilaku. Untuk kandidat dari Cianjur, pengurus lama turut mencalonkan kembali. Diantaranya yaitu : H Tasli Somantri, SM, Hk, R.HE Suwandi Hs, H.A Sarifudin, BA, Drs H Cecep Rohmat, H Engkos Kosasih.
Sedangkan untuk kandidat baru yang mencalonkan yaitu : Dra Hj Atikah (Kacadin Cilaku), Mustofa, Spd (Pengawas TK/SD Cilaku), Drs H Komara (Demisioner Pengawas), Drs Endang Sudarisman (Pengawas TK/SD Cianjur) dan Sopian Adiwikarta (Kepala Sekolah SDN Gayam Cianjur).
Namun, sementara penghitungan hasil suara dihitung, acara yang dimulai sejak pukul 08.00 pagi itu, menggelar pula acara pengundian Doorprize bagi seluruh anggota yang hadir. Tak tanggung-tanggung Televisi, Tape Compo, VCD Player, Kipas Angin, Dispenser dan Payung cantik dihadiahkan untuk para anggota yang beruntung.

Dengan jumlah tersebut, dapat dipastikan bahwa pengurus lama kembali dipercaya untuk meneruskan misi koperasi dalam pelayanan masyarakat, khususnya untuk para anggotanya untuk 4 tahun mendatang. H Tasli Somantri yang kembali disepakati menjadi ketua KGC mengatakan, “ Saya berterima kasih atas kepercayaan Ibu dan Bapak sekalian yang telah memilih kembali kami sebagai pengurus. Semoga kami dapat memberikan kinerja yang lebih baik dalam usaha mengsejahterakan seluruh anggota koperasi.” Tuturnya di akhir acara.
Read more

Rabu, Januari 28, 2009

MENJADI MAHASISWA IDEALIS

“Hati setiap pemuda mengenal keinginan dan keputusasaan, yang tak dapat diajuk hanya dengan ukuran-ukuran rasional. Dilain pihak pemuda selalu dibakar oleh cita-cita dan idealisme yang tinggi-tinggi. Mereka lincah, sigap dan suka meledak karena penuh vitalitas. Mereka tenggelam dalam semangat ”tak mengenal mati”, dan untuk membuktikan semangat itu mereka mempunyai kecenderungan untuk melakukan tindakan-tindakan ekstrem” (Adam Malik)

Wannabe-rebel (pemberontak tanpa misi dan prinsip yang jelas) kita hanya akan memandang sebuah pemberontakan dari sisi luarnya aja. Dan a wannabe-rebel tidak akan pernah membuat sejarah atau melahirkan pemikiran baru yang lebih baik yang bisa diwariskan pada generas berikutnya.
Kita orang timur emang seringkali binggung mengadaptasi culture barat yang sedemikian liberalnya, dimana disini masyarakat kita diikat oleh tatanan atau norma yang kadang tidak penting dan berlebihan. Masyarakat kita mencintai keseragaman dan kurang menghargai sosok-sosok idealis atau individualis. Menjadi seorang rebel memang susah untuk hidup di Indonesia, for real, tapi disanalah letak “art of the rebellion-nya”.
Perasaan tidak puas dan kegelisahan seringkali menjadi alasan yang cukup kuat menarik perhatian segolongan kecil anggota masyarakat ini untuk menjadi “pemberontak” terhadap kekakuan sistem yang ada. Sehingga, mereka seringkali mendapat cap sebagai bagian dari anak haram politik pendidikan pemerintah (Hariman Siregar, 2001).
Sesuatu yang memerlukan pengorbanan karena masyarakat kita masih cenderung melihat sisi negatif dari seorang rebel (di cap sok kebarat-baratan dll). Padahal menjadi rebel bukanlah hal yang 100% salah. Tergantung apa yang kamu lawan. Misalnya, kamu benci melihat sinetron-sinetron Indonesia yang mewah, dangkal dan mudah ditebak, lalu kamu bikin sebuah film dokumenter tentang bagaimana sinetron-sinetron tersebut membodohi masyarakat kita yang mayoritas masih hidup dibawah garis kemiskinan. Itu sebuah pemberontakan yang pintar. Sebuah counter terhadap komersialitas dan penyeragaman yang berlebihan serta anti kemapanan.
Kamu benci melihat budaya kekerasan yang semakin populer di masyarakat, lawan itu semua dan jangan ikut menjadi seperti mereka. Kamu kesal setiap kali melihat masyarakat dengan santainya membuang sampah plastik sembarangan, jadilah seorang pro-environment dan pengaruhi orang2 disekitarmu. Kamu gak tega melihat hewan2 dibunuh utk dimakan, jadilah seorang vegetarian dan daftarkan dirimu di peta2.com. Kamu bosan melihat budaya modern nan konsumtif anak muda yang manja dan kadang berlebihan, jadilah seorang berandal pasar barang bekas dan kenakan pakaian bekasmu dengan bangga dan stylish. Kamu merasa menyesal membeli majalah yang dipenuhi wajah-wajah infotainment ga penting, bikin dan cetaklah wajahmu sendiri. Bosan ama design kaos-kaos distro yang makin seragam dan cheesy, bikin clothing-line mu sendiri. Akan lebih baik jika kamu melakukan itu semua tanpa menjadi seorang fasis yang kaku. Just do your own thing.
Sejarah telah mencatat bagaimana upaya-upaya kaum muda untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Bagian kehidupan yang lebih luas yang secara tidak langsung telah memanggil peran pemuda pada persoalan-persoalan yang pelik. Keterlibatan pemuda ( dalam hal ini bisa diwakili oleh segolongan kecil mahasiswa ) menjadi bagian yang penting dengan menjadi motor penggerak dalam perubahan struktur sosial dalam masyarakat. Kehadiran mereka mewakili segolongan kecil intelektual yang memilih berumah diatas angin, tanpa berpihak pada sebuah paham ataupun kepentingan golongan tertentu. Mereka hadir untuk terus mempertanyakan kembali seluruh struktur atau perangkat pengertian politik yang ada di masyarakatnya secara menyeluruh. Mereka muncul sebagai penggugat terhadap segala hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan ukuran-ukuran moral yang diyakininya.
Dua pemikiran di atas kemudian kritik lagi oleh Jean Paul Sartre, seorang pemikir eksistensialisme yang pemikirannya banyak berkembang di Barat hingga kini. Menurut paham eksistensialisme yang dikembangkan Sartre "manusia itu ada bukan karena apa yang dia pikirkan, melainkan yang ia perbuat."

"We-are-what-we-are-to-be."!!!

Akan tetapi yang terpenting menurut saya tentang kata idealis adalah konsistensi, sejauh mana orang atau mahasiswa tersebut konsisiten dengan gagasannnya yang dianggapnya benar. Bila seorang mahasiswa menggangap bahwa berorganisasi, atau aktif dalam memperjuangkan nasib rakyat tanpa pamrih itu dianggapnya benar atau ideal maka ia akan melakukan hal tersebut sepenuh hati tanpa harus berbuah tujuannya walaupun banyak hal yang memaksanya untuk berbuah. Dan bila seorang mahasiswa menganggap bahwa gaya hidup konsumtif, dan hedon itu sesuai dengan gagasan dan ideal menurut dia, kita tak perlu mencap dia tidak idealis karena sekali lagi ideal menurut kita belum tentu ideal menurut orang lain.
Namun demikian, tidak sedikit mahasiswa yang mampu menggambarkan dengan jelas perubahan yang dikehendakinya dengan baik, bahkan hingga mengatasi pemikiran yang berkembang saat itu. Hal ini ditunjang oleh kebiasannya berfikir, belajar dan mengkaji sesuatu dari berbagai sumber yang ia dapatkan. Kekuatan daya tangkap, daya nalar dan imajinasinya, menghantarkannya menjadi pemikir-pemikir muda yang potensial. Terlebih bila ia memang sengaja dididik, dibina, dikembangkan dalam kerangka ideologi dan untuk tujuan tertentu, maka ia akan tumbuh menjadi kader yang tangguh, agen perubahan masyarakat ke arah cita-cita yang diembannya. Usia mudanya memberikan peluang untuk mengembangkan dirinya lebih lanjut, mengasah dan menajamkan pemikirannya, meningkatkan keberanian dan nilai kejuangannya. Idealisme yang dimiliki mendorong dirinya untuk bergerak demi perjuangannya itu.
Sikap kritis mahasiswa terhadap dirinya akan mengantarkan pada kondisi masyarakat luas. Jakob Burckhardt mengistilahkannya dengan Wuhle-‘mendobrak’, bahwa sikap kritis itulah yang menjadi jaminan berfungsinya intelegensia dalam masyarakatnya serta bermutunya sumbangan pemikirannya untuk kemajuan komunitasnya. Perjuangan menegakkan idealisme itu tidak berhenti hanya pada saat ia menjadi mahasiswa, yang ia jadikan kampus sebagai the first home, namun berlanjut pada kehidupan pasca kampusnya di masyarakaat, yang ia jadikan sebagai second home atau sebagai the school of life.

( chika )
Read more

Selasa, Januari 27, 2009

HARI IBU, REFLEKSI PENGHARGAAN UNTUK PEREMPUAN INDONESIA

yup, meski telat...ga ada salahnya cerita ini kembali nebeng sebagai pertanggungjawabanku menjadi ketua pelaksana di dalam peringatan Hari Ibu 22 Desember 2008 lalu....

Semua itu diawali dengan adanhya Partisipasi perempuan dalam gerak pembangunan daerah terutama dalam pengembangan sumber daya manusia diluar pendidikan dan keluarga dirasa belum optimal. Hal ini terjadi karena adanya stereotip bahwa perempuan merupakan makhluk lemah, pondok lengkah ( istilah Sunda ). Namun seiring dengan perkembangan jaman, dimana tuntutan dan peranan perempuan tidak hanya sebatas dalam lingkup keluarga saja. Pada era globalisasi ini sudah terjadi pergeseran budaya dan segala bidang, termasuk peran serta perempuan, dimana perempuan bukan hanya sebagai objek/partner pasif, namun dituntut peran dan tanggungjawab yang setara dengan laki-laki. Hal tersebut memang tidaklah mudah, dibutuhkan beberapa aspek yang berpengaruh terhadap peran serta perempuan dan aktivitasnya, salah satunya dan aspek yang paling penting tersebut yaitu tingkat pendidikan ( pengetahuan ).

Sejalan dengan visi-misi Pembangunan Daerah Kabupaten Cianjur yaitu, “Lebih Cerdas, Sehat, Sejahtera, dan Berakhlakul Karimah” dimana peran serta perempuan Cianjur, dituntut untuk bisa lebih aktif berpartisipasi dalam segala aspek pembangunan. Hal ini memerlukan Sumber Daya Perempuan yang mumpuni dalam segi pendidikan dan dalam cara pola berpikirnya. Oleh karena itu, keikutsertaan perempuan dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan menjadi aset penting dalam pembangunan.

Peran perempuan tidak dapat diabaikan, keikutsertaan perempuan Indonesia, Cianjur khususnya dalam menentukan sejarah dan arah perjuangan bangsa. Untuk itu Badan Eksekutif Mahasiswa UNPI Cianjur, dalam rangka Memperingati Hari Ibu yang ke-80 akan menyelenggarakan kegiatan Talk Show dengan Tema, Dengan Semangat Hari Ibu, Kita Tingkatkan Peran Serta Perempuan Dalam Pembentukan Generasi Muda Yang Aktif Dalam Organisasi Kemasyaakatan”. Ini merupakan langkah kecil dalam upaya merealisasikan partisipasi Perempuan tersebut dalam konsep Pembangunan dalam segala bidang.

Maksud dan tujuan dari kegiatan Peringatan hari Ibu ini adalah sebagai bahan evaluasi bagi generasi muda sebagai sebuah upaya kita meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keluhuran kodrat, harkat, martabat, kedudukan dan peran kaum perempuan Indonesia dalam upaya meningkatkan moral bangsa.

Acara Talk Show ini yang dilaksanakan pada hari Senin, 22 Desember 2008 lalu. Dan digelar di Aula gedung Pertemuan Yuyun Moelim Taher UNPI Cianjur. Jumlah Peserta yang hadir kala itu sekitar 150 orang. Namun yang mendaftar hanya sebanyak 80 orang saja. Acara inipun turut dihadiri oleh ketua yayasan UNPI Cianjur beserta staf kepercayaan dan rengrengan yang dibawa langsung dari Jakarta. Sebuah kehormatan bisa didatangi oleh beliau. Mengingat beliau adalah icon perempuan yang sungguh luar biasa. Meskipun gaya feodal cukup kental mewarnai suasana Talkshow saat itu.

Diawali dengan penampilan ”Dramatisasi Puisi” dari Teater Biroe yang begitu membakar semangat para hadirin yang hadir. Sungguh, ini kali ke-2 naskah jejak-jejak perempuan dapat sukses ditampilkan pada acara kampus. Terima kasih teramat dalam untuk anak-anak teater biroe yang telah menghidupkan hasil karyaku menjadi karya yang inspiratif dan memunculkan maknannya yang tersembunyi.

Pembicara yang hadirpun sebenarnya sangat diluar rencana awal. Tapi mungkin inilah yang disebut ” Perubahan berjalan seiring proses”. Segala yang terjadi memang sangat jauh dari paparan ideal yang telah tercantumkan dalam proposal yang telah saya rangkum selama 2 minggu penuh dan sarat dengan pergolakan yang idealis dan realistis. Sungguh, kegiatanku ini tak ingin pernah di identikan dengan hal-hal yang jauh dari kenyataan yang sesungguhnya.

Namun akhirnya, kondisi dan situasi juga yang membawa idealisme tersebut pada ranah fragmatis yang sangat ku haramkan. 3 Pemateri yang mengisi acara tersebut akhirnya semua bernotabene latar politik paktis. Meski ada hal-hal yang sedikit keluar dari lingkup wilayah yang sebenarnya harus bersih dari wacana politik. Karena pemateri, terkombinasi dari konteks Politik, Hukum dan Ekonomi. Dengan begitu, pandangan mereka terhadap permasalahan yang ada akan disesuaikan dengan background mereka masing-masing. Sedangkan Moderator sendiri, sengaja ku tawarkan pada Dosen kebanggaanku yang selalu jadi motivator manusia seujratnya dalam hidupku. Dan sungguh luar biasa, acara berlangsung dengan lancar. Bangku-bangku cukup terisi penuh dengan hadirin yang datang. Liku-liku wacana yang tersaji tertata rapi, meskipun harus ada perpotongan segmen tanya jawab yang hanya 1 sesion saja, dengan alasan ”sang icon kampus” sudah tak bisa duduk terlalu lama menyimak pergulatan wacana yang ada.

Tepat pukul 14.00, akhirnya acara berakhir. Pamungkas kegiatan pun ditutup dengan penampilan Musik Akustik ”Teater Biroe” yang membawakan lagu Bunda. Persembahan khusus untuk para perempuan di dunia. Lalu berlarilah waktu pada acara ramah-tamah dengan sajian makan perasmanan yang disediakan pihak universitas. Dengan manis menyambut hadirin yang ada.

Napas panjang yang melegakan terhembuskan begitu tentram terasa. Setidaknya, sakit kepala yang selalu mendera pikiran dan menyita energi otakku harus selama berminggu-minggu berakhir dengan hasil cukup memuaskan. Lagi-lagi ini kebanggaan yang luar biasa..

Setelah hari itu, aku banyak belajar, tentang segalanya terutama makna kehadiran ibu disamping kita. Tak ayal, bagaimana nasib kita tanpa adanya Ibu disamping kita. Yang senantiasa mengingatkan kita disaat kita lupa, dan memberikan inspirasi tanpa batas.
Secara tidak lansung pula mereka membentuk kita sebagai generasi-generasi yang tampil dengan kendali kasih sayang tanpa syarat yang menjadi doktrin terdatsyat bagi hidup kita.

(Chika)
Read more