Jumat, Juni 13, 2008

PERSFEKTIF KONTEKS KEMISKINAN
“Antara Korban dan Solusi yang Konstruktif”
Oleh : Siska Dian Klaresia1
Kata miskin berasal dari kosakata Arab, yaitu miskin yang diartikan sebagai “sesuatu yang tetap, tidak bergerak”.Ini memberikan arti bahwa seorang yang miskin adalah orang yang tidak mampu melakukan apa-apa, tidak bergerak dan tidak berdaya. Ia tidak bergerak, karena kemalasannya, atau karena tidak ada peluang untuk bergerak atau karena ada faktor lain yang membuatnya tidak bergerak. Sementara miskin dalam pengertian sehari-hari adalah “man la yajid ma yakfihi”2 (orang yang tidak dapat memperoleh sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya).
Selain itu kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural3. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedangkan miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
Masalah kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan fasilitas atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada zaman modern. Mereka hanya mengandalkan alam sebagai kekayaan yang bisa dimanfaatkan, dan bila ada interaksi mereka hanya melakukannya dengan cara barter / tukar menukar.
Berbagai persoalan kemiskinan penduduk akan sangat menarik jika dikomparasikan dari berbagai aspek, yaitu sosial, ekonomi, psikologi dan politik.

Aspek sosial terutama akibat terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi. Aspek ekonomi akan tampak pada terbatasnya kepemilikan alat produksi, upah kecil, daya tawar rendah,. tabungan nihil, lemah mengantisipasi peluang. Dari aspek psikologi terutama akibat rasa rendah diri, fatalisme, malas, dan rasa terisolir Sedangkan, dari aspek politik berkaitan dengan kecilnya akses terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan, diskriminatif, posisi lemah dalam proses pengambil keputusan serta kurangnya keterlibatan dalam koridor pemerintahan.
Kemiskinan hari ini mungkin menjadi kosa kata yang paling banyak dirasakan tetapi sedikit dibicarakan oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia. Pembicaraan paling emosional, paling bersemangat dan paling getol diperjuangkan adalah tema-tema yang berkaitan dengan isu keyakinan dan moral personal, seperti liberalisme, sekularisme, pelacuran, seks, perjudian, dan sejenisnya. Sementara kemiskinan yang menjadi penyebab kematian berjuta-juta orang tampaknya tidak atau kurang begitu menarik.

Indonesia sebagai negara yang terkenal sebagai zamrud khatulistiwa dan kaya akan sumber daya alamnya malah tergolong ke dalam daftar negara miskin. Sungguh ironis!!! Seharusnya dengan modal berharga yang telah ada tersebut, Indonesia seyogyanya mampu mengsejahterakan keadaan rakyatnya secara maksimal. Jumlah penduduk miskin tersebut terdapat di wilayah perkotaan dan perdesaan. Namun akibat krisis jumlah penduduk pula yang semakin banyak dan tidak adanya pemerataan yang stabil, menyebabkan rakyat miskin di Indonesia diperkirakan akan semakin bertambah setiap tahunnya hingga beberapa tahun kedepannya.
Naiknya harga BBM pun turut berperan penting atas semakin bertambahnya kemiskinan yang ada di Indonesia. Banyaknya kasus kelaparan yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia akibat ketidakmampuan daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sekalipun hanya untuk sesuap nasi. Penduduk miskin kadang tertolong dengan membeli beras murah saat ada operasi pasar (OP) Bulog. Namun ada pula yang memakan nasi aking yang didapat dari sisa makanan orang kaya yang dibuang begitu saja.
Yang Menjadi Korban

Kemiskinan dapat menimpa dan diderita oleh siapa saja, manusia laki-laki dan perempuan. Tetapi realitas kemiskinan yang tengah melanda bangsa Indonesia, memperlihatkan bahwa korban kemiskinan paling banyak diderita orang-orang yang lemah atau yang dilemahkan. Mereka adalah kaum perempuan dan anak-anak. Keadaan ini terjadi karena struktur sosial masyarakat masih menempatkan perempuan sebagai makhluk domestik dan sekaligus mendudukan mereka sebagai warga kelas dua. Dalam struktur sosial yang seperti ini, perempuan akan selalu tergantung kepada laki-laki (suami).Keadaan ini pada gilirannya mereka akan dipandang rendah, dimarjinalkan dan didiskriminasi dalam berbagai ruang kehidupannya terutama dalam akses ekonomi dan pendidikan. Dalam konteks Indonesia yang tengah terpuruk dan dilanda kemiskinan yang cukup akut seperti hari ini, kita melihat dengan jelas bagaimana kemiskinan telah melanda ribuan bahkan jutaan perempuan. Ketika laki-laki atau suami miskin, atau menjadi miskin, karena ketiadaan pekerjaan atau di PHK, maka kaum perempuan paling banyak menderita daripada kaum laki-laki.

Tidak hanya itu, kaum yang akan sama merasakan penderitaanpun meliputi orang-orang yang tidak mampu untuk mencari sumber kehidupannya sendiri karena keterbatasan fungsi fisik (cacat) dan para lansia yang tidak memiliki penopang hidup menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam ruang korban kemiskinan.

Solusi yang Konstruktif ??

Dari dulu orang miskin selalu menjadi objek dalam merencanakan berbagai pembangunan. Katanya, untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Tetapi dari dulu pula nasib penduduk miskin tidak berubah secara signifikan, bahkan jumlahnya terus bertambah. Tiap tahun ada orang makan nasi aking atau tiwul, berburu beras murah dan mereka memilih berobat ke paranormal karena ongkos periksa dokter tidak terjangkau. Pengentasan kemiskinan sepertinya hanya di bibir, hasilnya tak pernah nyata..
Dalam teori ekonomi mengatakan bahwa untuk memutus mata rantai lingkaran kemiskinan dapat dilakukan peningkatan keterampilan sumber daya manusianya, penambahan modal investasi, dan mengembangkan teknologi. Melalui berbagai suntikan maka diharapkan produktifitas akan meningkat. Namun, dalam praktek persoalannya tidak semudah itu. Lantas apa yang dapat dilakukan?
Mengentaskan kemiskinan memang tidak cukup hanya dengan tindakan sporadis. Misalnya, dengan memberikan sumbangan langsung tunai, menjual beras murah atau membagi-bagi nasi aking. Itu hanyalah sementara. Ibarat pemadam kebakaran, hanya memadamkan apinya tetapi tidak menyentuh persoalannya. Akan tetapi, model pendekatan yang akan dilakukan mesti menyeluruh dan mengutamakan pembangunan berbasis masyarakat. Karena urusan kemiskinan bukan sekadar minimnya mengakses sumber-sumber ekonomi, melainkan menyangkut persoalan kultur atau sikap mental masyarakat itu sendiri. Minimnya daya juang dan terlalu pasrah pada keadaan masih menghinggapi sebagian masyarakat kita
Di Indonesia program-program penanggulangan kemiskinan sudah banyak pula dilaksanakan, seperti : pengembangan desa tertinggal, perbaikan kampung, gerakan terpadu pengentasan kemiskinan. Sekarang pemerintah menangani program tersebut secara menyeluruh, terutama sejak krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, melalui program-program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Dalam JPS ini masyarakat sasaran ikut terlibat dalam berbagai kegiatan.
Sedangkan program penanggulangan kemiskinan di perkotaan lebih mengutamakan pada peningkatan pendapatan masyarakat dengan mendudukan masyarakat sebagai pelaku utamanya melalui partisipasi aktif. Melalui partisipasi aktif ini dari masyarakat miskin sebagai kelompok sasaran tidak hanya berkedudukan menjadi obyek program, tetapi ikut serta menentukan program yang paling cocok bagi mereka. Mereka memutuskan, menjalankan, dan mengevaluasi hasil dari pelaksanaan program yang telah ada tersebut.

Namun, apapun usaha atau program yang telah dirumuskan tersebut, pada kenyataannya akan kembali pada pribadi masyarakat itu sendiri. Semangat serta dorongan pemerintahpun harus tetap ikut bergulir sepanjang masyarakat tadi menetukan sikap untuk bangkit dari kemiskinan.



___________________________
1 “Seorang mahasiswi Fikom UNPI Cianjur, yang dilahirkan suatu ketika”
2 diambil dari kitab Mishbahul Munir (dalam buku antara miskin dan kaya)
3 3 Definisi kemiskinan menurut Ragnar Nurkse 1953
Read more

Senin, Mei 19, 2008

MAGDALENA, serpihan cinta yang tak pernah mati…

“Pada hakekatnya setiap manusia diilhami untuk memiliki cinta.
Karena dengan begitu, manusia benar-benar hidup di dunia ini”
_Satrasia_


Jika seorang gadis mengatakan pada orang tuanya bahwa ia akan menikah atau memiliki kekasih, sang orang tua biasanya akan bertanya, “Dia bekerja dimana atau apa pekerjaannya?”. Jika didefinisikan, tentu hal itu merupakan kewajaran yang syah untuk dipertanyakan. Para orang tua senantiasa menginginkan kebaikan dan kebahagiaan yang layak untuk anaknya. Kejelasan nasib akan masa depannya, karena dia akan lepas dari tanggungjawab orang tua jika ia telah diserahkan pada suaminya kelak. Memang ada proses materialisasi cinta, tetapi hal tersebut bukan semata-mata sebagai intrik jual beli namun merupakan hanya semata-mata ingin melindungi anaknya.
Lantas, dimanakah ukuran cinta yang murni??? bagi para “pecinta” yang melihat ideal pemikiran seperti itu, hanyalah sebuah kepalsuan yang tidak termasuk kedalam keluarga orang-orang yang memurnikan cinta.
Bila cinta telah menjadi jembatan bagi segala perbedaan, segala kekurangan, dan segala kelemahan. Bahkan kekejaman seorang Hitler takan mampu menampik belaian cinta yang telah seorang “Eve” berikan. Karena dengan menghidupkan cinta dalam ruang hidupnya berarti manusia tersebut telah benar-benar hidup. Dan itulah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
Orang-orang yang mengaku dirinya sebagai “pecinta”, mereka tidak akan menitikan air mata untuk kesedihan, tetapi darahlah yang akan ia suguhkan. Bila hatinya sedang berseri, maka seluruh alam akan dapat merasakan kebahagiaannya juga melebihi kebahagiaan sebuah negara yang telah makmur dan merdeka tanpa derita. Dan kata-kata yang mereka katakan senantiasa akan menjadi kitab suci yang agung, luhur dan tak terbantahkan. Penderitaan yang ia alami, akan dirasakan oleh seluruh langit lebih datsyat dari kacaunya lintasan orbit planet kita.
Bagi mereka, harta, tahta dan seluruh isi dunia tidak ada nilainya. Semuanya itu tidak sebanding dengan cinta yang bersemi dihati mereka, yang akarnya telah mereka jalarkan pada setiap urat nadi tubuhnya yang akan terus menancap kuat dan dan menumbuhkan kesadaran serta melahirkan daya juang yang tinggi sebagai pohon suci dalam hidup mereka.
Dan novel targedi yang pertama kali ditulis oleh Alphose Karr berjudul Sous les Tilleus (Dalam bahasa Prancis berarti, Di Bawah Pohon Tilia), yang kemudian disadur ke dalam bahasa Arab oleh Mustafa Lutfi Al Manfaluthi, seorang sastrawan mesir yang kemudian berjudul “Al Majdulin”, hingga akhirnya sampai ke Indonesia.
Dalam novel ini, berkisah tentang dua anak manusia yang masih terbelenggu dalam kelaziman adat. Memandang pantas atau tidaknya, dengan materi yang ia miliki. Magdalena adalah gadis jujur, lembut, dan memiliki cinta yang tulus. Namun seketika itu juga ia harus berhadapan dengan sentuhan zaman yang mulai mengusik dan menggeser prinsifnya pada cinta, sehingga ia harus mengakhiri cintanya pada Stevan, seorang pemuda miskin yang diasingkan oleh keluarganya namun memilki kekuatan cinta yang besar dan tulus sehingga menumbuhkan daya juang yang tinggi untuk mendapatkan cintanya. Perjuangan untuk mendapatkan Magdalena. Yang ia sendiri harus masuk pada wilayah “pengukuran cinta untuk materi” seperti yang diinginkan ayah Magdalena.
Bagi anda sekalian yang haus akan cerita cinta Romeo dan Juliet, Layla dan Majnun.Maka wajib bagi anda untuk membaca dan memakanai novel kisah Magdalena ini.
Read more

Jumat, Mei 02, 2008

PERSIAPAN DALAM MENGHADAPI PILGUB JABAR 2008

Dalam menjelang pemilihan gubernur jabar 2008, pemerintah kabupaten telah disibukan untuk mempersiapkan pemelihan pilgub ini. Adapun kesiapan dari pihak KPU seperti pendataan, pembagian kartu pemilih kesetiap anggota yang sudah terdaptar di DPT (daptar prmilih tetap). adapun anggota yang belum mendapatkan kartu pemilih asal sudah terdaftar di DPT maka setiap anggota berhak mengikuti pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur jabar 2008 secara demokrasi.
Pihak panwas pun ikut terlibat dalam persiapan menghadapi pilgub jabar ini. yang bertugas sebagai pengawas baik dalam kampanye setiap calon pilgub serta mengarahkan kepada setiap anngota kampanye dalam pemasangan baligo yang apabila masih terpasang pada minggu tenang maka akan mendapatkan sanksi karena ini merupkan pelanggaran.
Adapun kesiapan dari pihak keamanan khususnya dari kepolisian yaitu Polres Cianjur telah menurunkan lebih dari 1000 pasukan kapolri yang di bantu oleh prajurit limas. untuk membantu dalam menjaga keamanan menjelang pemilihan pilgub ini dan terhindar dari kericuhan yang dibuat oleh warga yang tidak bertanggung jawab.
Wakil Bupati pun menyatakan bahwa masyarakat kabupaten cianjur sudah siap dalam menghadapi pemilihan Gubernur jabar 2008. dimana jumlah pemilih di kabupaten Cianjur adalah 1.468.859 dan jumlah TPS, angota KKPS, Anggota PAM TPS, Anggota PPS, PPK dan Sekertarisnya yang berjumlah 32.677 petugas.
PENDAPAT
Menurut saya dalam menjelang persiapan pemilihan Gubernur Jabar 2008 ini harus benar-benar teliti dan detail agar dalam pelaksanaannya nanti bisa berjalan dengan baik tanpa ada kecurigaan dari setiap kubu calon pemilihan Gubernur.jadi dalam waktu pelaksanaan pemilihan Pilgub pun pihak panitia maupun pengawas harus benar-benar teliti dalam pengawasannya.(Elin Rismayanti)
Read more

Rabu, April 30, 2008

Saksi Aman Tolak Tandatangani Hasil Penghitungan Pilkada Jabar

Wahana Kampus Fikom-UNPI

cianjur- Saksi dari tim Agum-Nu’man menolak menandatangani hasil sidang pleno terbuka rekapitulasi penghitungan suara, Selasa (22/4/2008), yang memenangkan pasangan Hade sebagai gubernur dan wakil gubernur Jabar periode 2008-2013. Dengan alasan yuridis, tim Aman tidak setuju dengan hasil rekapitulasi suara.Menurut Koordinator saksi Tim Aman, Rahadi Zakaria, ada dua alasan timnya menolak menandatangani hasil rekapitulasi suara tersebut.? tutur Rahadi saat ditemui seusai rapat pleno terbuka di aula KPU, cianjur, Selasa (22/4/2008).Alasan pertama, ungkap Rahadi banyak saksi-saksi dari tim Aman yang tidak menandatangani hasil berita acara di tingkat kabupaten dan kota. “Kami harus melakukan kroscek ke daerah karena sepanjang pengetahuan kami ada beberapa daerah kabupaten dan kota yang memiliki perbedaan hasil suara,” ujarnya seusai sidang pleno terbuka di Aula KPU, cianjurt, Selasa (22/4/2008).Alasan lain yaitu masalah Daftar Pemilih Tetap. “DPT memang wilayah kewenangan KPU, tapi kami ikut menandatangani DPT saat penetapan DPT,” jelas Rahadi. Sebab dari 40 juta penduduk yang berhak memilih versi mereka, hanya 27,9 juta penduduk yang ditetapkan sebagai DPT Pilkada Jabar 13 April lalu.Karena dua permasalahan tersebut, ungkap Rahadi, pihaknya tidak menandatangani hasil rapat pleno terbuka rekapitulasi suara. “Secara yuridis kami keberatan dan tidak setuju,” tandas Rahadi.Hal itu tertuang dalam PP No 6 tahun 2005 pasal 28 yang menyatakan jika saksi tidak menandatangani dan tidak keberatan maka dinyatakan sah. “Logikanya, karena kami keberatan dan tidak menandatangani, itu tidak sah,”Menurut Rahadi, penolakan penandatangann ini merupakan bentuk partisipasi politik. “Partisipasi politik bukan hanya menyatakan iya tapi juga mengatakan tidak merupakan salah satu bentuk partisipasi politik.Sementara dua saksi pasangan lainnya, menandatangani berita acara penetapan hasil penghitungan suara Pilkada Jabar 2008.

Gunadi maulana

Read more

MENJELANG PILGUB JABAR 2008

Wahana Kampus Fikom-UNPI

Pada hari jumat tanggal 11 april 2008 kami selalu dikutsertakan mengikuti acara Coffee Morning di aula Bale Prayoga Pemda (Pemerinta Daerah) Cianjur. Pada kesempatan jumat yang lalu itu tema yang diangkat seputar persiapan pilgub (Pemilihan Gubernur) di kabupaten Cianjur. Acara tersebut dihadiri oleh ketua KPU Cianjur K.H Khairul Anam, perwakilan dari Bupati selain tiu juga ada dari Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu) serta dari pihak kepolisian. Untuk kesempatan pertama diberikan kepada ketua KPU (Komisi Pemilihan Umum) Cianjur yang menjelaskan tentang persiapan pilgub baik dari segi logistik pemilu yang sudah tersebardi seluruh kabupaten Cianjur tetapi msih ada lokasi yang belum menerima logistik pemilu seperti di kecamatan Campaka. Selain logistik pemilu dijelaskan pula bahwa surat suara yang sudah ada benar-benar asli itu dibuktikan dengan pengadaan alat canggih yang dapat melihat bagian-bagian terpenting dari surat suara tersebut.
Untuk selanjutnya giliran dari Panwaslu memaparkan bahwa mereka telah siap mengawasi pilgub di kabupaten Cianjur meskipun beberapa hari yang lalu sudah ada banyak pelanggaran yang dilakukan oleh ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Panwaslu akan melakukan tindakan hukum bekerja sama dengan Polri, setelah selesai perwakilan sari Bupati yang diwakilkan oleh salah seorang juru bicaranya bahwa Bupati telah bersiap untuk membantu kelancaran pilgub di kabupaten Cianjur. Terakhir dari kepolisian Polres Cianjur bahwa semua personel telah disiagakan untuk mengamankan pemilu di seluruh kabupaten Cianjur baik di dalam kota maupun luar kota Cianjur misalnya, di daerah Cianjur Selatan.
Acara coffee morning ini diakhiri pukul 11.00, kami selaku mahasiswa sangat senang dengan acara ini dan merupakan pengalaman yang menarik di karenakan bisa bertemu langsung dengan orang-orang yang ahli dalam bidangnya.

Pendapat
Perhelatan akbar ini ternyata kurang mendapat simpati dari masyarakat Jabar sendiri ite terbukti dengan kurangnya minat masyarakat terhadap pemilihan Gubernur ini. Misalnya di lingkungan saya warga di sekitar kurang antusias untuk datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) mereka seolah-olah tidak memeperdulikan acara akbar ini, saya juga menemukan sendiri banyak kasus misalnya, dalam surat suara banyak sekali keslahan dalam penulisan nama maupun alamat. Untuk ke depannya saya menyarankan kepada panitia penyelenggara agar memperbaiki kesalahan-kesalahan supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi serta banyak sosialisasi kepada masyarakat.
GALIH RAHMAT GINANJAR
06810014
Read more

PERSIAPAN MENJELANG PILGUB JABAR 2008

Wahana Kampus Fikom-UNPI
Acara Coffee Morning Press Jumat, 11 April lalu, kembali mendatangkan 4 pembicara yang berbeda. Masing-masing pembicara adalah Ketua KPU Cianjur, KH Chairul Anam, perwakilan Panwaslu Perwakilan dari bupati, H. Tedi, dan Humas Polres Cianjur, Priyadi. Mereka datang untuk membicarakan kesiapan mereka menjelang pemilihan gubernur yang dilaksanakan pada tanggal 13 April 2008.
Menurut Chairul Anam, masih ada 12 kecamatan di Cianjur yang warganya belum menerima Kartu Tanda Pemilih (KTP). Selain itu, banyak terdapat kesalahan cetak dalam KTP, seperti, kesalahan nama pemilih, atau tahun kelahiran pemilih tidak sesuai. Diakui oleh Chairul Anam bahwa percetakan meman mengalami banyak kesalahan teknis. Namun, kesalahan pada KTP tidaklah berpengaruh pada pemilhan, karena KTP hanyalah syarat administratif.
Jika tidak memilki KTP, asalkan memiliki surat C6 (surat panggilan), masyarakat masih bisa memilih. Jika tida memiliki C6, dapat memakai kartu identitas lain, asalkan terdaftar sebagai DPT (Daftar Pemilih Tetap).
Untuk menanggulangi penggelembungan pemilih, KPU diberi 4 macam alat deteksi (detektor), untuk memeriksa apakah surat suara asli atau tidak.
Sementara itu, pihak Panwaslu memiliki 2 Fungsi untuk mengawas jalannya pilgub, yaitu:
  1. Pengawasan pasif, yaitu panwas menerima laporan pelanggaran yang dilaporkan (pelanggaran administrasi maupun pidana).
  2. Pengawasan aktif, yaitu panwas aktif mencari kemungkinan-kemungkinan pelanggaran yang terjadi yang dilakukan oleh 2 kandidat gubernur maupun pihak-pihak lain.
Panwas di Kabpaten Cianjur sendri sudah merekapitulasi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dan sudah menemukan 18 perkara dan 6 di antaranya adalah pelanggaran lalu lintas. Panwas sendiri terdiri dari beberapa unsur yaitu:
  1. Unsur Akademis
  2. Unsur Tokoh Masyarakat (ormas, LSM)
  3. Unsur Pers
  4. Unsur kejaksaan
  5. Unsur Kepolisian
Jumlahpemilh di Kabupaten Cianjur berjumlah 1.468.869 orang dengan 2440 TPS dan 24080 KTPS. Menurut Tedy, pihaknya sudah menghimbau masyarakat agar mau melaksanakan pencoblosan. Karena biasanya dalam suatu keluharan tidak semua masyarakatnya turut berpartisipasi dalampemilihan.
Kemudian pihak Kepolisa sudah melaksanakan simulasi pengamanan TPS dan melibatkan semua peronol untuk mengamankan TPS. Pola pengamanan yag akan dilakukan pihak kepolisian mengacu pada kondisi tiap wilayah dikaitkan dengan hipoleksosbudhankam.

Pendapat
Berkenaan dengan persiapan pilgub dan pelaksanaannya, memang masih banyak terdapat kekurangan. Seperti masalah Kartu Tanda Pemilih. Di daerah saya pun banyak terdapat kesalahan dalam penulisan nama pemilih dan tahun lahir pemilih.
Mengenai pencoblosan pun, masyarakat sepertnya kurang antusias. Dari sekitar 400 orang pemilih yang terdaftar, hanya 257 orang yang datang ke TPS, itupun 11 surat suara tidak sah. Menurut saya, hal ini karena masyarakat berpendapat pemilihan gubernur tidaklah seperti pemilihan presiden. Dengan kata lain pemilihan gubernur tidaklah sepopuler pemilihan presiden. Sehingga masyarakat tidak tertarikuntuk turut berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini.

Nurida Husnaningtyas, NIM 0681003



Read more